Jumat, 11 Juni 2010

maserasi, ekstraksi, dan perkolasi

Nama : Eko Cahyono
NIM. : 441 406 012


Cara Likens-Nickerson (alatnya disebut ekstraktor Lickens-Nickerson) merupakan ekstraksi minyak asiri dalam skala laboratorium. Rajangan daun jeruk purut dicampur dengan air suling, lalu diletakkan dalam labu erlenmeyer 1 liter. Pelarut ditempatkan dalam labu didih 50 ml (labu ini berhubungan dengan labu erlenmeyer melalui pipa gas dan kondensor). Kedua labu dipanaskan sampai mendidih (isinya) hingga minyak asiri tersuling secara simultan selama 3 jam. Pemisahan minyak asiri dari pelarutnya dilakukan dengan penguapan pada tekanan rendah.

Pada cara macerasi, daun jeruk yang telah dihancurkan direndam dalam pelarut dalam tangki tertutup dan didiamkan beberapa hari. Selama itu dilakukan pengadukan beberapa kali supaya larutan minyak asiri merata. Selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepresan, hingga diperoleh cairan pelarut. Penjernihan dilakukan dengan pengendapan atau penyaringan.

Sedangkan perkolasi adalah melarutkan minyak asiri dari hancuran daun jeruk dengan pelarut yang mengalir. Seperti halnya macerasi, daun dihancurkan lebih dulu supaya ekstraksi berlangsung lebih cepat. Hancuran jeruk purut itu kemudian dialiri dengan pelarut dalam sebuah perkolator. Setelah proses dianggap selesai, cairan yang diperoleh dipisahkan minyak asirinya dengan cara penyulingan.
ebookpangan.com 2ebookpangan.com
Warna minyak asiri dan komposisi kimia hasil penyulingan dengan cara kelima di atas dapat dilihat pada foto dan tabel berikut. Foto dan tabel tersebut diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Ir. Hanny Wijaya, MSc, pakar teknologi flavor (cita rasa) pangan dari jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA – IPB, Bogor, dan mahasiswa beliau Ir. Jenny Rahardja.

Perkolasi
• Difinisi :
Penyarian yg dilakukan dg mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplesia yang telah dibasahi.
• Cara kerja :
Serbuk simplisia ditempatkan dlm suatu bejana silinder, yg bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersbut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yg dilalui sampai mencapai keadaan
jenuh. Cairan akan bergerak ke bawah karena beratnya sendiri dan cairan di atasnya.
Persiapan Bahan
Bahan yang digunakan adalah biji kedelai dari varietas Lumajang, Rinjani, Lokon, dan Singgalang, serta galur 3035/AGS-112-11-4, 85056-9-2-1, 3695 Tabanan, 3586 Nganjuk, 3647 Banyuwangi, dan LB80. Biji kedelai tersebut masing-masing
digiling dengan hammer-mill dan disaring dengan saringan berukuran 100 mesh.
Tepung kedelai dihilangkan lemaknya dengan metode sokletasi. Kedelai bebas lemak dikeringkan pada suhu kamar untuk menghilangkan pelarutnya.

Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa terpenoid antibakteri dari herba meniran (Pyllanthus niruri Linn) dengan metode Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa. Ekstraksi senyawa dilakukan dengan dua cara yaitu maserasi dengan pelarut metanol dan sokletasi dengan pelarut n–heksanaa. Hasil uji fitokimia menggunakan pereaksi Lieberman-Burchard pada ekstrak n–heksanaa hasil maserasi dan ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi menunjukkan bahwa kedua ekstrak tersebut positif mengandung senyawa terpenoid. Hasil uji aktivitas ekstrak n–heksanaa terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 25293 menunjukkan fraksi n–heksanaa hasil sokletasi memberikan daya hambat yang lebih baik. Daya hambat fraksi n–heksanaa hasil maserasi adalah 1 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 0,5 mm
terhadap bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan daya hambat fraksi n–heksanaa hasil sokletasi yaitu 10 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 12 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi dimurnikan dengan menggunakan kromatografi kolom dan diidentifikasi dengan Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa. Data Kromatografi Gas – Spektroskopi Massa, menunjukkan kemungkinan ekstrak n–heksanaa hasil sokletasi mengandung dua buah senyawa yaitu phytadiene [M ] 278 dan
senyawa 1,2-seco-cladiellan m/z 335

Ekstraksi
Ekstraksi senyawa terpenoid dilakukan
dengan dua cara yaitu :
1.Sokletasi
Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran disokletasi dengan 5 L pelarut n –heksana. Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan dalam 50 mL KOH 10%. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri.
2.Maserasi Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran dimaserasi menggunakan pelarut metanol. Ekstrak metanol dipekatkan lalu dihidrolisis dalam 100 mL HCl 4 M. Hasil hidrolisis diekstraksi dengan 5 x 50 mL n – heksana. Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan dalam 10 mL KOH 10%. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri.

2 komentar: